Deklarasi Balfour menjadi sejarah awal lahirnya zionis Israel yang kemudian terlibat konflik berkepanjangan dengan Palestina hingga detik ini. Israel terus berupaya menggusur Palestina bermodal deklarasi yang dirilis Inggris pada 1917 itu

Jika ditarik sejarahnya, konflik Palestina dan Israel sudah terjadi puluhan tahun lampau. Ada banyak faktor yang mendorong munculnya konflik akut dua kubu ini. Riwayat sengketa bisa ditelusuri sejak dirilisnya Deklarasi Balfour yang melegitimasi imigrasi kaum Zionis Yahudi ke tanah Palestina.



Sejarah Deklarasi Balfour

Bibit-bibit pergolakan antara Palestina dan Israel dimulai dari Deklarasi Balfour yang dikeluarkan Inggris pada 2 November 1917. Deklarasi yang berisi pernyataan sebanyak 67 kata itu menjadi api pemantik perseteruan terpanjang dalam sejarah dunia, konflik Palestina dan Israel sampai hari ini

Asal kata Balfour diambil dari nama Sekretaris Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, yang menulis surat tersebut kepada Lord Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Inggris. Inti deklarasinya berjanji mendukung ‚Äúpendirian tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina”, sebagai strategi politik tersembunyi untuk memenangkan Perang Dunia I

Dengan memberikan restu bahwa orang Yahudi boleh mendirikan tanah air di Palestina, pemerintah Inggris berharap bahwa pemodal Yahudi dapat membujuk Presiden Amerika Serikat saat itu, Woodrow Wilson, untuk membawa bala tentara AS dalam pusaran perang. Inggris juga meyakini bahwa kaum Yahudi juga bisa merayu Perdana Menteri Rusia, Aleksandr Kerensky, agar juga memberikan dukungan serupa di Perang Dunia I

Alasan lainnya, sebagaimana dikutip dari Foreign Affairs, letak Palestina yang strategis karena menghadap Mesir dan Terusan Suez menjanjikan berkah ekonomi di masa mendatang. Pemerintah Inggris berpikir, jika tidak mengeluarkan deklarasi kepada orang Yahudi, maka Jerman akan merebut Palestina terlebih dahulu.

Isi Deklarasi Balfour

Deklarasi Balfour hanya berisi tiga paragraf dengan 67 kata. Isi paragraf pertamanya adalah bentuk dukungan Kerajaan Inggris Raya kepada ideologi Zionisme untuk mendirikan tanah air nasional bagi orang Yahudi.

Penggunaan kata “tanah air nasional” sendiri belum memiliki preseden dalam hukum internasional, seolah belum menunjukkan bentuk riil dari “tanah air nasional” yang dimaksud deklarasi tersebut.

Sebagai informasi, Zionisme adalah gerakan nasional orang Yahudi dan budayanya untuk mendukung terciptanya sebuah tanah air Yahudi di wilayah yang didefinisikan sebagai Tanah Israel.

Deklarasi Balfour memuluskan jalan Zionis untuk mencaplok kawasan Palestina menjadi Tanah Israel bagi orang Yahudi.

Paragraf kedua dalam deklarasi itu menunjukkan harus ada aneksasi sebagai konsekuensi hadirnya orang Yahudi di wilayah yang sudah berpenduduk. Mau tidak mau, terjadi pengusiran orang-orang Palestina dari tanahnya sendiri.

Berikut ini terjemahan isi Deklarasi Balfour:

Kementerian Luar Negeri Inggris,

2 November 1917

Kepada Yang Terhormat Lord Rothschild

Dengan rasa senang saya menyampaikan pada Anda, atas nama Pemerintah Kerajaan Inggris, deklarasi yang didasarkan pada simpati untuk aspirasi Zionis Yahudi ini telah diajukan dan disetujui oleh Kabinet Perang

Pemerintah Kerajaan Inggris memandang positif pendirian tanah air nasional untuk orang-orang Yahudi di Palestina, dan akan menggunakan usaha terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, sebab dipahami bahwa tidak ada yang dapat menghakimi hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik yang dimiliki oleh Yahudi di negara lainnya.

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini kepada Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia. Salam Arthur James Balfour

Dampak Deklarasi Balfour

Secara tidak langsung, Deklarasi Balfour merupakan dukungan Inggris terhadap kolonialisme Zionis. Beberapa tahun setelah deklarasi tersebut, Inggris memfasilitasi imigrasi Yahudi ke Palestina. Antara kurun waktu 1922 sampai 1935, populasi Yahudi di Palestina meningkat. Jumlah warga Yahudi yang mulanya hanya 9 persen, kemudian melonjak hingga hampir 27 persen dari total penduduk.

Nihilnya pelibatan orang-orang Palestina menjadikan deklarasi itu sebagai keputusan sepihak, sebuah produk buatan dari kekuasaan Eropa ke wilayah non-Eropa, serta mengabaikan kehadiran dan keinginan penduduk asli Palestina. Akhirnya, pada 1939 barulah Inggris menyadari kesalahannya.

Mereka kemudian menyerahkan perkara Palestina ke PBB dan mengakhiri pemberlakuan “Mandat Inggris atas Palestina”. Namun, pada 1948, orang-orang Yahudi tetap mendeklarasikan kemerdekaan Israel, yang kemudian secara paksa mengusir lebih dari 750 ribu orang Palestina dari wilayah asli mereka.

source : Tirto.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here